Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 April 2013

Optimalisasi Peran dan Fungsi Masjid

Artinya : “Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, Maka merekalah orang-orang yang diharapkan Termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS 9:18, At Taubah)

Sejarah Masjid
Secara etimologis masjid berarti tempat untuk bersujud. Sedangkan secara terminologis masjid diartikan sebagai tempat beribadah umat Islam, khususnya dalam menegakkan shalat. Disamping itu masjid juga sering disebut dengan Baitullah (rumah Allah), yang merupakan bangunan yang didirikan sebagai sarana mengabdi kepada Allah. Oleh karena itu, masjid merupakan bangunan yang sengaja didirikan umat muslim untuk melaksanakan shalat berjamaah dan berbagai keperluan lain yang terkait dengan kemaslahatan umat muslim.

Sejarah menujukkan bahwa pada waktu Nabi Muhammad SAW hijrah dari Mekah ke Madinah ditemani shahabat beliau, Abu Bakar, pada waktu melewati daerah Quba di sana beliau mendirikan Masjid pertama sejak masa kenabiannya, yaitu Masjid Quba. Setelah di Madinah Rasulullah juga mendirikan Masjid, tempat umat Islam melaksanakan shalat berjama’ah dan melaksanakan aktivitas sosial lainnya yang kemudian disebut dengan Masjid Nabawi.

Sejarah juga mencatat bahwa, masjid mengalami perkembangan yang pesat, baik dalam bentuk bangunan maupun fungsi dan perannya. Hampir dapat dikatakan, dimana ada komunitas muslim disitulah ada Masjid. Memang umat Islam tidak bisa terlepas dari Masjid. Disamping menjadi tempat beribadah, Masjid telah menjadi sarana berkumpul, menuntut ilmu, bertukar pengalaman, pusat da’wah dan lain sebagainya.

Pada masa Nabi Muhammad SAW dan Khulafa Ar Rasyidin, masjid berfungsi sebagai tempat beribadah, menuntut ilmu, dan merencanakan kegiatan kemasyarakatan. Kaum muslimin membicarakan masalah-masalah agama, pendidikan, sosial, politik, dan berbagai masalah kehidupan di masjid, mengajak manusia pada keutamaan, kecintaan, pengetahuan, kesadaran sosial, serta pengetahuan tentang hak dan kewajiban kepada Tuhan dan Negara. Bermula dari masjid pula, mereka menyebarkan akhlak Islam dan memberantas kebodohan. Oleh karena itu, masjid merupakan tempat paling baik bagi kegiatan pendidikan dan pembentukan moral keagamaan.

Perkembangan selanjutnya, di indonesia banyak Masjid didirikan umat Islam, baik Masjid umum, Masjid Sekolah, Masjid Kantor, Masjid Kampus maupun yang lainnya. Masjid didirikan untuk memenuhi hajat umat, khususnya kebutuhan spiritual, guna mendekatkan diri kepada Pencipta-nya. Tunduk dan patuh mengabdi kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Masjid menjadi tambatan hati, pelabuhan pengembaraan hidup dan energi kehidupan umat.

Dari sisi pertumbuhannya, masjid di Indonesia sangat menggembirakan karena dari tahun ke tahun jumlahnya kian bertambah. Kendati demikian, secara jujur harus diakui, bahwa pemanfaatannya belum optimal. Oleh karena itu, perlu diupayakan berbagai usaha untuk memakmurkannya, di samping memfungsikannya semaksimal mungkin secara terus menerus.

Karenanya, menjadi tanggung jawab umat Islam khusus para pengelolanya untuk mengembalikan masjid sesuai fungsinya semula sebagai pusat segala kegiatan kaum muslimin. Akan tetapi, untuk memakmurkan masjid melalui optimalisasi peran dan fungsinya tersebut di atas tidaklah mudah, diperlukan kemampuan manajerial idarah dan kesiapan waktu dari para pengelola masjid. Tentunya harus ada pembenahan internal dari jamaah masjid itu sendiri. Setidaknya, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain, mengaktifkan kepengurusan masjid, mengaktifkan kegiatan masjid, meningkatkan kepedulian terhadap amanah masjid, meningkatkan kualitas manajemen idarah masjid dan pemeliharaan fisik ri’ayah masjid.



Peran strategis masjid sebagai pemberdayaan umat
Peran strategis sebagai wadah pemberdayaan ummat terdapat ada empat fungsi dan peran masjid antar lain sebagai berikut:
1. Pusat Pendidikan dan Pelatihan.
Pusat Pendidikan dan Pelatihan merupakan peran strategis yang saat ini telah banyak dilakukan di masjid. Proses ini ditandai dengan adanya kegiatan pendidikan dan pemberian pelatihan-pelatihan diantaranya dengan penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan Taman Pendidikan Al Quraan (TPA), Remaja Masjid maupun Ta’mir Masjid beserta kegiatannya. Dalam konteks ini masjid berfungsi sebagai tempat untuk belajar mengajar, khususnya ilmu agama yang merupakan fardlu ‘ain bagi umat Islam. Disamping itu juga ilmu-ilmu lain, baik ilmu alam, sosial, humaniora, keterampilan dan lain sebagainya dapat diajarkan di Masjid.
2. Pusat Penjaringan Potensi Umat.
Masjid dengan jamaah yang selalu hadir sekedar untuk menggugurkan kewajibannya terhadap Allah bisa saja mencapai puluhan, ratusan, bahkan ribuan orang jumlah-nya. Ini bisa bermanfaat bagi berbagai macam usia, beraneka profesi dan tingkat (strata) baik ekonomi maupun intelektual, bahkan sebagai tempat berlangsungnya akulturasi budaya secara santun apabila dilakukan penjaringan pada petensi-potensi yang mereka miliki. 

3. Sebagai tempat pembinaan jama’ah
Masjid berperan dalam mengkoordinir mereka guna menyatukan potensi dan kepemimpinan umat. Selanjutnya umat yang terkoordinir secara rapi dalam organisasi Ta’mir Masjid dibina keimanan, ketaqwaan, ukhuwah imaniyah dan da’wah islamiyahnya. Sehingga Masjid menjadi basis umat Islam yang kokoh.
4. Sebagai pusat da’wah dan kebudayaan Islam
Masjid merupakan jantung kehidupan umat Islam yang selalu berdenyut untuk menyebarluaskan da’wah islamiyah dan budaya islami. Di Masjid pula direncanakan, diorganisasi, dikaji, dilaksanakan dan dikembangkan da’wah dan kebudayaan Islam yang menyahuti kebutuhan masyarakat. Karena itu Masjid, berperan sebagai sentra aktivitas da’wah dan kebudayaan.


5. Sebagai Pusat Pengembangan Budaya dan Tradisi Islami
Masjid sebagai tempat melestarikan dan mengembangkan beragam tradisi dan seni yang telah dilembagakan masyarakat muslim melalui program pembinaan qira’atul Qur’an bit taghanni (membaca dengan lagu), latihan seni hadrah, pembacaan sholawat Nabi , penyelenggaraan Peringatan Hari-Hari Besar Islam dan lain-lain
6. Sebagai Pusat Pemberdayaan Sosial dan Ekonomi
Masjid sebagai tempat pemberdayaan kaum dhuafa dan mustad’afin (terutama fakirmiskin dan anak yatim) melalui program pembentukan lembaga Zakat , Infak dan Shadaqah, lembaga ekonomi umat, pemberian santunan kepada dhuafa dan pelatihan kewirausahaan

Berdasarkan potensi di atas dapat di pahami bahwa secara komprehenship mashid mempunyai peran yang sangat strategis tidak hanya sebagai tempat ibadah semata-mata tetapi juga mempeunya peran dalam membrdayakan ummat islam baik dari segi budaya dan ekonomi. Peran stregis ini perlu dikembangan berdasar kepada kebutuhan dan potensi umat.

Mengembalikan Fungsi Masjid

Berasal dari bahasa Arab, masjid secara etimologis berarti tempat sujud. Sedangkan secara terminologis, masjid adalah tempat melakukan kegiatan ibadah dalam makna luas. Dengan demikian, masjid merupakan bangunan yang sengaja didirikan umat muslim untuk melaksanakan shalat berjamaah dan berbagai keperluan lain yang terkait dengan kemaslahatan umat muslim.

Akan tetapi, bila mencermati perkembangan dewasa ini, fungsinya yang kedua ini cenderung mulai berkurang, hal ini lantaran masjid sering hanya dipahami semata-mata untuk sujud sebagaimana dilakukan dalam shalat. Masjid memiliki peran yang signifikan dalam mengembangkan dan membangun kapabilitas intelektual umat, kegiatan sosial kemasyarakatan, meningkatkan perekonomian umat, dan menjadi ruang diskusi untuk mencari solusi permasalahan umat terkini

Akan tetapi, fungsi strategis di atas belakangan ini ternyata sudah banyak mengalami pergeseran. Bahkan, ada kecenderungan umum bahwa masjid lebih difungsikan dari aspek sakralnya saja, yakni ritual seremonial. Sebaliknya fungsi-fungsi pendidikan dan sosialnya justru kurang mendapat prioritas. Dan yang paling ironi kebanyakan dari pengurus masjid saat ini lebih memperhatikan kemegahan bangunannya. Kondisi inilah yang diprediksi menjadi salah satu faktor penyebab terhambatnya kemajuan umat Islam dan rapuhnya kesatuan umat Islam. Selain itu, barangkali pula, yang menjadi salah satu faktor penyebab mundurnya peradaban dan umat Islam. Padahal, masjid merupakan tempat yang cukup strategis untuk menjadi titik pijak penggerak kemajuan umat Islam dan titik temu dan perbedaan simbol-simbol material dan strata sosial yang sering melekat pada kehidupan masyarakat kita. Pendeknya, apa yang kita temui sekarang ini, peran masjid telah direduksi sedemikian rupa sehingga masjid cenderung berperan sebagai tempat pembinaan ibadah ritual semata.

Pada masa Nabi dan khulafa ar Rasyidin, masjid berfungsi sebagai tempat beribadah, menuntut ilmu, dan merencanakan kegiatan kemasyarakatan. Kaum muslimin membicarakan masalah-masalah agama, pendidikan, sosial, politik, dan berbagai masalah kehidupan di masjid, mengajak manusia pada keutamaan, kecintaan, pengetahuan, kesadaran sosial, serta pengetahuan tentang hak dan kewajiban kepada Tuhan dan Negara. Bermula dari masjid pula, mereka menyebarkan akhlak Islam dan memberantas kebodohan. Oleh karena itu, masjid merupakan tempat paling baik bagi kegiatan pendidikan dan pembentukan moral keagamaan.

Kita merasa prihatin menyaksikan banyaknya masjid yang sepi kegiatan keislaman. Pada umumnya, rumah ibadah ini selalu dikunci dan hanya dibuka pada waktu-waktu shalat. Dari sisi pertumbuhannya, masjid di Indonesia sangat menggembirakan karena dari tahun ke tahun jumlahnya kian bertambah. Kendati demikian, secara jujur harus diakui, bahwa pemanfaatannya belum optimal. Oleh karena itu, perlu diupayakan berbagai usaha untuk memakmurkannya, di samping memfungsikannya semaksimal mungkin secara terus menerus. Karenanya, menjadi tanggung jawab umat Islam khusus para pengelolanya untuk mengembalikan masjid sesuai fungsinya semula sebagai pusat segala kegiatan kaum muslimin. Akan tetapi, untuk memakmurkan masjid melalui optimalisasi peran dan fungsinya tersebut di atas tidaklah mudah, diperlukan kemampuan manajerial (idarah) dan kesiapan waktu dari para pengelola masjid. Tentunya harus ada pembenahan internal dari jamaah masjid itu sendiri. Setidaknya, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain, mengaktifkan kepengurusan masjid, mengaktifkan kegiatan masjid, meningkatkan kepedulian terhadap amanah masjid, meningkatkan kualitas manajemen (idarah) masjid dan pemeliharaan fisik (ri’ayah) masjid.

Dalam upaya pemanfatan masjid, para pemerhati masjid termasuk di dalamya para pengelola perlu mengadakan berbagai program disertai fasilitas pendukungnya. Terdapat sejumlah kegiatan, yang perlu dijalankan untuk memakmurkan dan mengembalikan masjid kepada fungsinya sebagai pusat pemberdayaan dan pengembangan kaum Muslim, antara lain:

Mengintensifkan Kajian-kajian Keislaman (Majelis Ta’lim)
Dewasa ini, masyarakat melihat bahwa keberadaan majelis ta’lim merupakan salah satu alternatif bagi pembinaan mental keagamaan, sesuatu yang selama ini kurang dapat diberikan oleh lembaga pendidikan formal melalui kurikulum yang bersifat intrakurikuler.

Pada saat lembaga-lembaga pendidikan formal, baik umum maupun agama, yang dilaksanakan pemerintah maupun swasta mulai dirasa kurang mampu membina mental keagamaan dan penguasaan terhadap tuntutan praktis dan ajaran agama secara memuaskan. Lembaga-lembaga pendidikan umum dan agama, sulit menghasilkan lulusan yang betul-betul memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran agama dengan baik. Mereka tidak dapat membaca ayat-ayat al-Quran dengan baik, melaksanakan ibadah shalat dengan baik, kurang giat melakukan ibadah ritual, kurang dapat menjiwai ajaran dan nilai—nilai ajaran agama serta mulai merosot akhlaknya. Munculnya fenomena tersebut telah banyak dicarikan akar penyebabnya. Di antaranya, kurangnya jam pelajaran agama, kurangnya perhatian dan waktu pembinaan yang dilakukan orangtua di rumah, tidak sebandingnya bekal agama yang dimiliki para siswa dengan tantangan arus budaya global yang berdampak negatif, lingkungan yang kurang sehat, dan bergesernya konsep pendidikan menjadi konsep pengajaran yang lebih menekankan pada pengisian otak si anak dengan berbagai pengetahuan. Sejumlah alasán tersebut memberikan peluang sangat luas dan terbuka bagi majelis taklim untuk menampilkan keberadaannya sebagai wahana dan metode pembelajaran agama yang dinamis dan demokratis, di tengah-tengah keformalan dan keterbatasan metode pembelajaran agama secara klasikal dan konvensional di sekolah-sekolah dan lembaga pendidikan formal lainnya.

Melibatkan para pemuda
Tidak diragukan lagi bahwa para pemuda memiliki peran yang sangat penting dalam tatanan kehidupan manusia secara umum dan masyarakat kaum muslimin secara khusus, karena jika mereka pemuda yang baik dan terdidik dengan adab-adab Islam maka merekalah yang akan menyebarkan dan mendakwahkan kebaikan Islam serta menjadi nakhoda umat ini yang akan mengantarkan mereka kepada kebaikan dunia dan akhirat. Hal ini dikarenakan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan kepada mereka kekuatan badan dan kecemerlangan pemikiran untuk dapat melaksanakan semua hal tersebut.

Masjid dalam hal ini tentu saja juga memiliki peran dan posisi yang strategis guna mengawal golongan generasi muda tersebut melewati masa peralihannya yang penuh gejolak itu dengan baik, yaitu utamanya dalam wadah organisasi remaja masjid. Tercatat, saat ini telah mulai banyak berdiri organisasi remaja masjid di banyak masjid dan menjadi bagian resmi dari struktur organisasi kepengurusan masjid. Di dalam organisasi ini, para anggota remaja Islam dibina dan dibentuk karakter kepribadian dan kecerdasannya sehingga kelak mampu menjalani kehidupan yang lebih Islami. Caranya, lewat berbagai macam metode dan kegiatan, di mana minat, bakat, dan kemampuan positif yang dimiliki para remaja tetap dapat diakomodasi dan disalurkan.

Bagi masjid sendiri, keberadaan organisasi remaja masjid sejatinya juga penting dalam mendukung tercapainya kemakmuran masjid yang dicita-citakan. Pasalnya, kendati tanpa remaja kegiatan masjid tetap bisa berjalan, namun secara jangka panjang tidak ada jaminan hal tersebut akan terus berlangsung, bahkan menjadi lebih baik dan bermutu. Bagaimanapun, keadaan masjid pada sepuluh, dua puluh, atau tiga puluh tahun mendatang, salah satu tolok ukurnya adalah bagaimana kondisi remajanya pada masa sekarang. Bila tidak ada pembinaan dan proses pengkaderan yang terstruktur, berjenjang, dan berkesinambungan sejak dini, bisa dipastikan masa depan masjid bersangkutan akan suram.

Hal demikian kiranya yang masih kurang dipahami oleh sementara kalangan pemimpin masjid. Tidak heran, kalaupun terdapat organisasi remaja masjid, proses awal pembentukkannya tidak melibatkan kalangan remaja secara aktif dan luas. Sementara, dalam praktiknya pun organisasi ini hanya ditempatkan sekadar “pelengkap penderita”, yang sewaktu-waktu dapat dimobilisasi atau digerakkan oleh kalangan tua untuk membantu merealisasikan aneka kegiatan masjid. Semisal, yang kerap terjadi, dalam penyelenggaraan PHBI (Peringatan Hari Besar Islam) dan kerja bakti di masjid.

Perpustakaan masjid
Salah satu faktor penyebab mundurnya peradaban dan umat Islam adalah jauhnya umat Islam dari ilmu pengetahuan (baca: buku). Pembinaan umat yang selama ini berjalan cenderung hanya menggunakan pendekatan komunikasi lisan satu arah yang justru membuat para jamaah terbiasa dengan budaya dengar. Pembinaan terpusat pada dai, ustadz, atau juru dakwah semata. Alhasil, jamaah tidak termotivasi, tidak mandiri, dan menjadi pasif dalam mendalami ajaran Islam.

Membaca merupakan bagian paling penting dari proses menuntut ilmu. Dengan membaca kita jadi tahu apa yang selama ini tidak kita ketahui. Dengan membaca inilah ilmu kita dapatkan, amal bisa kita tegakkan, dan dakwah bisa kita suarakan, Perpustakaan masjid sebagai perpustakaan komunitas bisa menjadi sebuah alternatif yang sangat bagus jika dikelola dengan baik. Bayangkan, jika setiap masjid di kampung dan desa mempunyai perpustakaan, tentu akan semakin mudah bagi masyarakat untuk mengakses bahan-bahan bacaan, Perpustakaan masjid akan menjadi sumber bacaan yang lebih merakyat karena tidak membutuhkan birokrasi yang rumit. Namun kenyataannya, praktek di lapangan sering berbeda dengan kondisi ideal yang diinginkan

Kesimpulan
Dari sisi pertumbuhannya, masjid sangat menggembirakan karena dari tahun ke tahun jumlahnya kian bertambah. Kendati demikian, secara jujur harus diakui, bahwa pemanfaatannya belum optimal. Oleh karena itu, perlu diupayakan berbagai usaha untuk memakmurkannya, di samping memfungsikannya semaksimal mungkin secara terus menerus. Karenanya, menjadi tanggung jawab umat Islam khusus para pengelolanya untuk mengembalikan masjid sesuai fungsinya semula, sebagai pusat segala kegiatan kaum muslimin. Akan tetapi, untuk memakmurkan masjid melalui optimalisasi peran dan fungsinya tersebut di atas tidaklah mudah, diperlukan kemampuan manajerial (idarah) dan kesiapan waktu dari para pengelola masjid. Tentunya harus ada pembenahan internal dari jamaah masjid itu sendiri. Setidaknya, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain, Perlunya pemahaman akan pentingnya peran dan fungsi masjid sebagai wadah dalam perbaikan umat, mengaktifkan kepengurusan masjid, mengaktifkan kegiatan masjid, meningkatkan kepedulian terhadap amanah masjid, meningkatkan kualitas manajemen (idarah) masjid dan pemeliharaan fisik (ri’ayah) masjid. [Gishar Hamka]

Perangkap Setan

Oleh : Achmad Hanif, S.Ag.

“Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya,(39) Kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis[1] di antara mereka".(40) #QS.Al-Hijr(15):39-40#

Dalam kitab Madarijus Salikin, Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah mengungkapkan lima strategi Iblis dalam menyesatkan manusia. Jika strategi pertama tidak berhasil, maka iblis menggunakan strategi (perangkap) ke dua, jika gagal juga, maka memakai perangkap ke tiga dan seterusnya. Dari perangkap pertama (paling kasar), sampai ke lima paling halus, sampai-sampai kita tidak terasa telah berada di dalam kubangan perangkap iblis tersebut.

Pertama, iblis laknatullah menawarkan kekufuran, menolak otoritas agama, menolak keyakinan kepada Tuhan, menolak ajaran Nabi, dan menolak kebenaran kitab suci. Bersama orang-orang kafir, syetan menghembuskan keragu-raguan kepada kaum muslimin terhadap agamanya sendiri. Mereka menghembuskan; bahwa agamalah yang menjadikan penganutnya terbelakang, terbelenggu, tidak modern, kolot, dan ketinggalan jaman.

Melalui strategi ini, iblis dan barisan orang-orang kafir menghembuskan isu, bahwa Islam bertentangan dengan Hak Asasi Manusia (HAM). Islam melegalkan praktek diskriminasi jender dengan menempatkan perempuan pada posisi di bawah pria. Islam mengajarkan sikap tidak bersahabat terhadap perbedaan dan cenderung memaksakan kehendak. Selain itu, bersikap absolutisme.

Kedua, iblis membiarkan kita beragama tetapi dalam waktu yang bersamaan mereka menjadikan kita melakukan bid’ah (mengada-adakan agama). Padahal Agama Islam sudah lengkap (sempurna), mengatur semua aspek kehidupan manusia. Sebagaimana firman Allah SWT :
“…, pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu. …#QS.Al-Maaidah(5):3#

Iblis rela kita beragama, tetapi mereka menyelewengkan kita sehingga seolah-olah beragama padahal sesungguhnya kita sudah jauh melenceng dari ajaran Islam. Kita merasa mendapat pahala dari amalan-amalan kita, padahal amalan itu adalah bid’ah. Sadisnya, iblis menanamkan sikap fanatic kepada kita, sehingga setiap orang yang mengingatkan praktek bid’ah, maka orang tersebut kita lawan sebagaimana orang yang melawan agama.

Di sini syetan amat lihai. Ia memainkan pedang bermata dua. Sebagian kita dijadikan mudah untuk membid’ahkan yang lain, sementara sebagian yang lain lagi dijadikan fanatic terhadap ajaran (praktek) bid’ahnya. Masing-masing memutlakkan pendapatnya. Masing-masing menganggap dirinya dan kelompoknya yang paling benar. Perseteruan intern umat Islam di sini menjadi sangat seru, bahkan tidak sedikit yang berakhir dengan menelan korban jiwa di kedua belah pihak.

Ketiga, syetan menggoda kita lewat dosa-dosa besar, misalnya; berzina, minuman keras, dan membunuh. Didukung dan dikobar-kobarkan nafsu syahwat kita oleh media cetak dan elektronik.

“Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.” #QS.Al-Israa(17):32#

Kita dibuat gampang mengakses dan melakukan perbuatan maksiyat. Informasi kemaksiyatan sangat mudah diperoleh, berikut tempat, cara dan transaksinya. Lewat media pula, nafsu syahwat kita dirangsang, dipupuk, dan dikobar-kobarkan setiap saat dan tempat. Tak heran jika sebagian kita terjebak, masuk dalam jurang (kubangan) dosa yang mereka buat sendiri.Padahal Allah SWT berfirman :
“… dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” #QS.Shaad(38):26#

Keempat, setan menjebak kita melalui dosa-dosa kecil. Iblis meniupkan pikiran nakal dalam hati kita, bahwa melakukan dosa kecil itu sangat manusiawi. Bukankah manusia itu tempatnya salah dan dosa? Bukankah dosa-dosa kecil itu bias dihapus dengan air wudlu, membaca istighfar, atau dengan perbuatan baik lainnya?

Banyak diantara kita yang sangat hati-hati dan bisa menghindar dari dosa-dosa besar, tetapi mereka lalai terhadap dosa kecil. ‘Ah, ini kan cuma dosa kecil!’ Padahal dosa kecil yang dilakukan terus-menerus bisa berakibat fatal juga. Jika dikumpulkan akan menjadi besar. Ironisnya, pelakunya tidak menyadari tumpukan dosa yang menggunung itu.

Kelima, syetan mempengaruhi kita agar sibuk melakukan hal-hal yang mubah sampai kita melupakan pekerjaan lebih penting dan strategis., termasuk melakukan ibadah. Kita disibukkan tidur panjang, nongkrong di warung hingga larut malam, bergadang tanpa tujuan, main musik, catur atau olah raga hingga terlena. Sampai-sampai waktu shalat atau ibadah diulur-ulur, dan lama-lama ibadah ditinggalkan tidak terasa. Kemudian ketika ada yang menegur (mengingatkan) bereka berdalih, ini kan urusan pribadi. Lagi pula, ini semua toh tidak dilarang oleh agama (mubah).

“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan Perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” #QS. Luqman(31):6#

Dalam Tafsir Ibnu Katsir : lahwal hadiitsi ditafsirkan : cerita-cerita yang tak bermanfaat, suara-suara dan nyanyian-nyanyian tak berguna dan hanya menyesatkan manusia dari jalan Allah SWT.

“Demi masa.(1) Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,(2) Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.(3)” #QS.Al-‘Ashr(103):1-3#

---oooOooo---




[1] Yang dimaksud dengan mukhlis ialah orang-orang yang telah diberi taufiq untuk mentaati segala petunjuk dan perintah Allah s.w.t.

Minggu, 21 April 2013

SHALAT BERJAMA’AH DI MASJID

Oleh : Achmad Hanif, S.Ag.

Mengawali bahasan ini, kita nukilkan tiga buah hadits sebagai pijakan :
Dari Abdullah bin Umar RA, Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Shalat berjama’ah itu lebih utama (afdlal) dari pada shalat sendiri dengan 25 derajat.” (HR.Buchori)

Dari Abu Hurairah RA, berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Shalat berjama’ah itu lebih utama (afdlal) dari pada shalat sendiri dengan 27 derajat.” (HR.Buchori)

Dari Abu Hurairah RA, Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku ada di genggaman-Nya, sungguh ingin rasanya aku menyuruh orang untuk mengumpulkan kayu baker, lalu aku menyuruh Adzan untuk menunaikan shalat serta menyuruh seorang untuk menjadi imam bagi manuasia, kemudian menyuruh yang lainnya untuk membakar rumah-rumah beserta penghuninya yang tidak mau mendatangi panggilan adzan tersebut (shalat berjama’ah)” (HR.Buchori)

Dari tiga hadits di atas, kita dapat mengambil (paling tidak) dua point tentang perintah shalat berjama’ah :
  1. Rasulullah SAW memerintah kepada kita untuk shalat berjama’ah dengan metode reward, pahala, keutamaan atau bonus yang fantastis dengan 25 atau 27 kali lipat.
  2. Rasulullah SAW memerintah kepada kita untuk shalat berjama’ah dengan metode hukuman (punishman), ancaman jika tidak mau taat.
Kemudian timbul pertanyaan : Mengapa Rasulullah SAW begitu mengharapkan kita untuk shalat berjama’ah dengan cara halus dan keras? Ada apa sebenarnya dengan shalat berjama’ah itu? Mungkinkah ada hikmah di balik itu?

Dalam ajaran Islam, setiap apa yang diperintah oleh Allah dan Rasul-Nya kepada kita pasti ada dampak (nilai) positif (kebaikan) bagi yang mau melaksanakannya. Segala sesuatu yang dilarang oleh Allah SWY dan Rasul-Nya pasti berdampak buruk bagi mereka yang melanggarnya. Demikian halnya, terhadap perintah Rasulullah SAW di atas, yakni shalat berjama’ah, pasti ada nilai-nilai (dampak) positif bagi yang mau melaksanakannya. Tetapi, niat kita harus tetap untuk mencari ridho Allah, sementara kita memperoleh dampak positif, itu hanya efek samping, bukan tujuan utama. Tentu saja ridho Allah itu diperoleh, juga diperlukan jihad kita (ilmu, sikap dan prilaku). Orang menanam padi, sampai menghasilkan beras, tentu perlu jihad (kerja keras, merawat, memupuk, dll), dan pasti memperoleh efek samping positif, misalnya : jerami utk pakan ternak, sekam utk buat batu bata, bekatul utk pakan ternak, dll).

Berikut ini kita sampaikan hal-hal yang merupakan efek samping dari shalat berjama’ah (bersumber dari buku : ‘Misteri Shalat Berjama’ah’ karya Imam Musbikin ) :
  1. Bagi Kesehatan Jasmani dan Rokhani
    • Bacaan surat Al-Fatihah dan Surat-surat sesudahnya yang dibaca jahr (keras) akan berdampak positif :
    • Bagi Imam : segala pikiran negative dan ketakutan yang membebani pikiran akan terlepas, sehingga tekanan darah dan stress berkurang. Hal ini berakibat adanya keseimbangan pada seluruh area tubuh.
    • Rudolph Steiner dari Waldorf Schools USA melakukan penelitian, dan menghasilkan suatu kesimpulan : bahwa huruf vocal yang dibaca panjang (aa, ii, ee, uu) ternyata dapat merangsang kerja jantung, paru-paru secara optimal, termasuk juga kerja kelenjar-kelenjar tubuh, seperti : tiroid, pineal, pituitary dan adrenalin.
    • Bagi makmum : yang mendengarkan dengan khusuk (seksama), jiwanya menjadi tenang dan terhindar dari stress.
    • Sebuah penelitian terhadap para sukarelawan (pasukan untuk maju perang) di suatu kamp penamapungan (mereka semua merasa tegang/stress). Oleh Muh. Kamil Abd. Samad, kepada para sukarelawan semuanya dipasang alat detector (alat elektronik) disusun sedemikian rupa yang dihubungkan computer. Kemudian kepada mereka diperdengarkan bacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Hasilnya : ketegangan mereka berkurang hingga 97% (97% tidak tegang)
    • Ada korelasi positif antara bonus (kenaikan gaji) dengan kesehatan jasmani dan rokhani. Dengan mendapat imbalan 25 atau 27 kali lipat dari biasa akan menenteramkan jiwa. Jiwa yang tenang akan berpengaruh pada system kekebalan tubuh, hal ini akan berpengaruh pula pada tingkat kesehatan seseorang. Dalam system dagang, ada prinsip : ‘Kalau mau untung banyak dan dalam waktu relative cepat, maka harus mencari tempat yang tepat.’ Misalnya: sekali bekerja sendirian di bayar Rp 10.000,-,maka 5 kali bekerja akan memperoleh Rp 50.000,-. Lalu kita mengajak, minimal satu orang saja untuk bekerja sama (kerja tim / jama’ah), maka masing-masing akan memperoleh Rp 1.250.000,- atau Rp 1.350.000,- cukup fantastis bukan?
  1. Lingkungan Masjid
    • Terapi Peningkatan Prestasi Belajar
    • Dalam buku “Psikologi Shalat” karya Sentot Haryanto: memuat penelitian terhadap para mahasiswa yang belajar di USA, ternyata mereka yang berprestasi tinggi rata-rata tinggal di lingkungan masjid.
    • Muallifah Sa’adah melekukan penelitian (2003) di lingkungan masjid ‘Baitusy Syafa’ah’. Terbukti : Bahwa dari sample 107 siswa MI Riyadhul ‘Uqul, Kranggan, Geger, Madiun, Jatim, yang berprestasi tinggi adalah mereka yang tinggal di sekitar masjid tersebut.
    • Terapi Kesehatan Psikhis dan Fisik
Do’a-do’a, shalat, tadarrus Al-Qur’an dan ibadah lainnya yang dilakukan oleh orang yang masuk di dalam masjid akan meninggalkan energi-energi positif di tempat tersebut. Karena setiap unsur penyusun tubuh akan menghasilkan gelombang elektromgnetik. Secara ilmiah, orang sakit adalah system energi di dalam tubuhnya tidak stabil (kacau). Sehingga ketika dia masuk ke masjid (di sini banyak energi positif), maka system energinya yang kacau akan dinetralisir, sehingga menjadi stasioner (sehat). Tentu saja, untuk bisa dinetralisir harus membuka diri(hati) mencari ridho Allah, dengan syari’at yang telah ditentukan.

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku' (Yang dimaksud Ialah: shalat berjama'ah dan dapat pula diartikan: tunduklah kepada perintah-perintah Allah bersama-sama orang-orang yang tunduk)” #QS.Al-Baqarah(2):43#


                                                                       ---oooOooo---

 
Design by Wordpress Theme Template Blog Free | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes